Jum'at, 27 Agustus 2010 | 20:57 WIB
Teknologi
VIVAnews - Tumbuhnya industri online di Indonesia membuat perusahaan-perusahaan online dan startup asal Indonesia mulai aktif di ajang inovasi web dan aplikasi mobile, termasuk yang berskala internasional.
Salah satu di antaranya adalah turnamen inovasi web dan aplikasi mobile yang diselenggarakan oleh komunitas E27 asal Singapura, bertajuk 'Asia's Top 50 Apps'. Turnamen ini bertujuan untuk mencari situs dan aplikasi mobile paling kreatif dalam hal inovasi teknologi, bisnis dan desain, yang diikuti oleh peserta di tingkat Asia.
Di ajang tersebut, beberapa perusahaan online dan startup online asal Indonesia turut dinominasikan. Mulai dari startup yang namanya jarang terdengar, hingga perusahaan-perusahaan online ternama.
Dari pantauan VIVAnews, di antara sekitar 150-an peserta turnamen banyak juga yang berasal dari Indonesia. Beberapa di antaranya adalah situs online ternama seperti Kaskus, Koprol, Tokobagus, atau startup yang sudah tak asing, seperti Tokopedia, Urbanesia. atau KrazyMarket.
Selain itu, ada pula startup-startup Indonesia lainnya, seperti Tuitwit, BukuQ, Gantibaju, Lewatmana, Ngaturduit, i-klan store, Kayakarya, Gamelan, Scraplr, MyBabyTree, Movreak, Newsachormac, Adadiskon, Goorme, Brosurku, eEvent, Flusr, Kulacak, MainMusik, dan Doocu.
Panitia memberi kesempatan kepada para pengguna internet untuk memilih aplikasi kesayangan mereka di situs resmi e27 hingga 31 Agustus 2010. Dari hasil voting, nantinya akan dipilih 50 aplikasi mobile atau situs web yang mendapat suara terbanyak, yang akan diumumkan pada 1 September 2010.
Dari 50 peserta pilihan, panitia akan memilih 10 terbaik, yang dipilih oleh tim juri beranggotakan para ahli. 10 pemenang akan berkesempatan untuk bekerjasama dengan operator telekomunikasi di negaranya yang berada di bawah kelompok Singtel. Mereka juga diberi kesempatan untuk tampil pada acara Accelerate 2010 yang diselenggarakan pada 22 -23 2010 di Singapura.
Tokobagus.com, sebagai salah satu nominator dari Indonesia, sepertinya tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka langsung menggelar kampanye di situs Tokobagus maupun di laman Facebook resminya untuk menggalang suara.
“Terima kasih atas peran pengunjung setia Tokobagus.com yang telah mereferensikan situs kami ini kepada panitia kontes bergengsi tersebut. Berkat referensi dari para member serta masyarakat, Tokobagus.com berkesempatan ikut kontes bertaraf internasional ini.” kata Remco Lupker, Direktur Tokobagus.com melalui siaran persnya.
VIVAnews - Tiga tempat di Amerika Serikat (AS) berada di posisi teratas dalam sebuah survei mengenai akses internet tercepat. Namun, 62 persen kota dengan akses internet tercepat di dunia justru berada di benua Asia.
Tiga kota dengan akses internet tercepat adalah Berkeley dan Stanford di California dan Chapel Hill di North California. Namun, dalam cakupan lebih luas, Jepang masih lebih unggul berdasarkan survei dari akselerator konten internet, Akamai, dalam laporan yang dirilis Selasa 20 April 2010.
Akamai menemukan bahwa 48 dari 100 kota dengan akses internet tercepat berada di Jepang dan 62 kota berada di Asia. Tiga negara dengan kecepatan akses tertinggi adalah Korea Selatan, Hong Kong (yang dalam survei dimasukkan dalam peringkat negara), dan Jepang. Tiga negara tersebut merupakan tiga negara yang melampaui kecepatan koneksi rata-rata 7,5 Mbps.
Dengan menganalisis kecepatan koneksi, Akamai menemukan bahwa 31 negara bagian AS meningkatkan kecepatan akses pada kuartal keempat.
“Tiap kuartal tahun kami mengukur kecepatan rata-rata akses internet kota,” kata juru bicara Akamai. “Kami memonitor 465 juta koneksi IP yang tidak biasa dan jumlahnya selalu bertambah tiap kuartal,” sebutnya, seperti dikutip dari PCWorld.
Akamai mengatakan bahwa AS dan China, bila digabung, menduduki hampir 40 persen alamat IP yang diobservasi. Selama krisis global, Akamai menemukan bahwa 96 negara memiliki rata-rata kecepatan internet di bawah 1Mbps.
Jumlah negara tersebut menurun dibanding kuartal sebelumnya yang berjumlah 103 negara. Penurunan tersebut mengindikasikan bahwa terjadi kemajuan dalam mengupayakan peningkatan koneksi internet. Saat itu, hanya tiga negara dengan kecepatan internet di bawah 100Kbps. (art)